Jumat, 25 Januari 2013

Demam Thypoid

Definisi Demam Thypoid


Demam thypoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran (Manjoer Arief, 2000).

Demam thypoid adalah penyakit infeksi yang akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 1997).

Demam typoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhosa, secara klinis ditandai dengan demam yang lebih dari 1 minggu disertai gangguan pencernaan dalam berbagai bentuk dan gangguan kesadaran dalam berbagai tingkat (Rampengan, 1992).

Jadi demam thypoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi ditandai dengan demam 1 minggu dan disertai gangguan saluran pencernaan serta gangguan kesadaran.

Etiologi
Penyebab demam typhoid adalah Salmonella typhi, basil gram negatif, bergerak dengan Rambut getar, tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya empat macam antigen yaitu antigen O (somatic), H (flagella), Vi, dan protein membran hialin (Manjoer Arief, 2000 & Ngastiyah, 1997).

Manifestasi Klinis

a. Demam
Pada kasus yang khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiten dan suhu tidak tinggi sekali. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari. Dalam minggu kedua pasien terus berada dalam keadaan demam, pada minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali pada akhir minggu kedua.

b. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah (ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemurahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung (metenismus). Hati dan limfa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya sering terjadi konstipasi tetapi juga dapat diare atau normal.

c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopos, koma atau gelisah (kecuali penyakitnya berat dan terlambat mendapatkan pengobatan). Disamping gejala-gejala tersebut mungkin terdapat gejala lainnya. Pada punggung dan anggota gerak dapat ditemukan roseola, yaitu bintik-bintik kemurahan karena amboli basil dalam kapiler kulit, yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam. Kadang-kadang ditemukan pula bradikardia dan epistaksis pada anak besar.

Patofisiologi

Bakteri (Salmonella thypis) masuk ke tubuh manusia melalui saluran cerna. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limpod plaque peyen di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella thypis kemudian menembus kelamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesentirial yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini Salmonella typii lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus Salmonela typii bersarang di plasue peyeri, limfa, hati, dan bagian-bagian lain sistem retikulo endoterial. Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam thypoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam thypoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat S. thypii berkembangbiak. Demam pada thypoid disebabkan karena S. typii dan endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang (FKUI, 1996 & Ngastiyah, 1997).


Komplikasi

Komplikasi demam thypoid dapat dibagi dalam :
a. Komplikasi intestinal / pada usus halus
1) Perdarahan usus
2) Perforasi usus
3) Peritonitis

b. Komplikasi ekstra intestinal / komplikasi di luar usus
1) Komplikasi kardiovaskuler
Kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis, dan tromboflebitis)
2) Komplikasi darah
Anemia hemolitik, trombositopenia, dan atau disseminated intravaskulan coagulation (DIC) dan sindrom uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru
Pneumonia, empiema dan pleuritis.
4) Komplikasi hepar dan kandung empedu
Hepatitis dan kolesistisis.
5) Komplikasi ginjal
Glumerolonefritis, prelonefritis dan perinofritis.
6) Komplikasi tulang
Osteomielitis, perrostitis, spondilitis, dan antritis.
7) Komplikasi neuronsikratrik
Delirium, meningitis, polinevritis perifer, sindrom guili aim, barre, psikosis dan sindrom katatonia.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan leukosit
b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT Biakan darah
- Teknik pemeriksaan laboratorium
- Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit
- Pengobatan dengan obat antimikroba
- Vaksinasi dimasa lampau
c. Uji widal
d. Kepekaan Salmonella thypii terhadap obat anti mikroba

Penatalaksanaan
a. Medik
1) Isolasi pasien, desinfeksi pakaian dan okskreta
2) Perawatan yang baik untuk menghindari komplikasi, mengingat sakit yang lama, lemah, anoreksia, dll
3) Istirahat selama demam sampai dengan 2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan
4) Diet
5) Obat pilihan ialah klorompenikol kecuali jika pasien tidak serasi dapat diberikan obat lainnya seperti kotrimoksazol
6) Bila terdapat komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya bila terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena, dsb

b. Keperawatan
1) Kebutuhan nutrisi / cairan dan elektrolit
- Jika pasien sadar diberikan makanan lunak dengan lauk pauk di cincing (hati daging) : sayuran labu siyem / wortel yang dimasak lunak sekali
- Pasien yang kesadarannya menurun sekali diberikan makanan cair personde, kalori sesuai dengan kebutuhannya
- Jika pasien parah seperti yang menderita dividen di pasang infus dengan cairan glukosa dan NaCl Gangguan suhu tubuh
- Untuk menurunkan suhu tubuh dengan memberikan obat secara adekuat dan istirahat mutlak sampai suhu turun diteruskan 2 minggu lagi kemudian imobilisasi bertahap
- Ruangan diatur agar cukup ventilasi
- Anak jangan ditutupi dengan selimut yang tebal agar penguapan suhu lebih lancer

2) Gangguan rasa aman dan nyaman
- Perawatan mulut 2x sehari oleskan boraks gliserin (cream) sering-sering dan sering diberikan minum untuk meningkatkan nafsu makan
- Karena pasien apatik harus lebih diperhatikan dan diajak komunikasi

3) Resiko terjadinya komplikasi
- Obat kloramfenikol, dosis 100 mg / kg BB / hari diberikan 4x / hari
- Istirahat
- Pengawasan komplikasi
- Perdarahan usus, perforasi usus dan komplikasi lain

4) Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
- Pasien tidak boleh tidur dengan anak-anak lain ; mungkin ibunya menemani tetapi tidak tidur bersama
- Pasien harus istirahat mutlak sampai demam turun, masih dilanjutkan selama 2 minggu
- Pemberian obat
- Pembuangan feses dan urin harus dibuang ke dalam lubang WC dan disiram air sampai sebanya-banyaknya (Ngastiyah, 1997)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar